NLP Conference 2014

Bismillahirrahmanirrahim..

Alhamdulillah.. Saya dalam kondisi amat bahagia ketika menulis cerita yang akan saya tulis dalam blog ini.

Izinkan saya kembali flash back ke 6 tahun yang lalu ketika saya pertama kali mengenal NLP,  saya masih kuliah di jurusan Psikologi semester 3. Saat itu saya yang (masih) terobsesi untuk mendalami psikologi klinis dan tertarik untuk mempelajari NLP guna menambah pengetahuan saya dibidang psikoterapi dan berharap bisa mempelajari hypnosis sebagai tools untuk membantu klien  saat saya sudah menjadi seorang psikolog di bidang klinis  nantinya (ini mimpi saya ketika saat itu).

6 Tahun yang lalu, saya yang belum paham apa itu NLP (Walaupun saat ini masih sukar menjelaskan ke orang lain apa itu NLP), tidak terlalu termotivasi untuk berusaha agar saya bisa ikut training NLP, Karena masih terkendala masalah biaya, saat itu training NLP buat saya terlalu mahal untuk investasinya.

tapi entah.. keinginan belajar itu masih ada, walaupun belum besar semangatnya..

3 tahun yang lalu, saya mulai memfollow akun guru-guru yang sering berbagi pengalaman dan ilmunya via twitter. Saya follow akun-akun yang direkomendasikan untuk difollow. salah satunya adalah akun twitter milik dr. Andhyka. Saat itu saya tidak mengenal siapa beliau. Setelah saya baca profile beliau di websitenya, saya membaca profile  beliau adalah seorang Master Practitioner of NLP.

Master Practitioner?? wah.. saya harus bertemu dengan beliau!

Saat itu, saya nekat mengajak beliau untuk bertemu secara langsung. Saya ingin belajar NLP langsung dari beliau. Saya mention beliau di twitter “Dok, I want to be like you. saya mau belajar dari Anda. bolehkah bertemu?”

Biasanya mention tidak selalu bisa terbalas karena kemungkinan tidak terbaca karena banyaknya mention. Saya pun agak cemas kalau-kalau mention saya tidak terbaca. namun Alhamdulillah, dr. Andhyka membolehkan saya untuk bertemu. Beliau memberikan no hp dan alamat kantornya via DM.

Saat saya ketemu beliau, saya agak gugup. kenapa?

saya baru mengenal beliau 2 hari, itu pun via twitter.

“jadi kamu baru kenal saya lewat twitter? belum pernah kenal saya sebelumnya? belum pernah ikut seminar saya?”

hehe.. baru kenal 2 hari udah nekat ngajak ketemuan karena pengen belajar NLP..Alhamdulillah beliau mengapresiasikan usaha saya untuk memberanikan diri bertemu langsung dengan beliau.

Saya kemukakan niat saya untuk belajar NLP, dan beliau pun merekomendasikan saya untuk membaca buku NLP: The Art of Enjoying Life yang ditulis oleh Teddi Prasetya.

Saat membaca buku mas Teddi, saya agak kesulitan memahami. banyak pertanyaan, “ini maksudnya apa ya.. ini gimana ya..”

saya membutuhkan guru untuk bisa menjelaskan.

tak lama setelah saya sadar bahwa saya butuh seorang guru untuk belajar, di saat itu  dr Andhyka mempublish acara NLP Conference 2012 yang diadakan di PSJ UI. Akan ada belasan guru NLP yang akan berbagi di sana.

ini kesempatan saya untuk berguru. saya tidak boleh melewatkan kesempatan ini. titik!

di NLP Conference, saya pertama kali bertemu dengan Mas Teddi, Mas Syamsul dan Mas Andra, para chairman dan vise chairman dari Indonesia NLP Society.

Saya bersyukur, itulah pertama kalinya saya ber ta’aruf dengan ilmu NLP. Walaupun saat itu saya masih sulit memahami, saya tetap berniat untuk mengikuti NLP Conference di tahun berikutnya dan terus mempelajarinya sampai saya bisa terapkan ilmu ini.

dan di tahun 2014 ini, saya kembali hadir di NLP Conference, Bukan sebagai peserta, karena saya dipercayakan menjadi salah satu tim penyelenggara NLP Conference 2014. Alhamdulillah, NLP Conference dalam format baru, 2 hari Full.

di NLP Conference lah saya bisa bertemu dengan guru-guru NLP yang biasanya hanya bisa berinteraksi via twitter dan mengupdate perkembangan ilmu ini dan pengaplikasiannya di kehidupan sehari-hari.

Satu bulan lebih mempersiapkan acara NLP Conference 2014 ini. Letih tenaga dan pikiran, namun hati ini malu untuk mengeluh karena besarnya semangat tim panitia dalam mempersiapkan acara ini agar bisa terlaksana dengan sukses.

rasa letih yang dirasakan tak sebanding dengan rasa bahagia yang saya rasakan ketika menjadi tim acara di Indonesia NLP Conference.
Mengapa saya bahagia?
karena di NLP Conference saya bertemu dengan peserta yang mirip dengan pengalaman saya 2 tahun lalu. NLP Conference merupakan tempat yang tepat untuk calon pembelajar baru NLP. Di Indonesia NLP Conference lah tempat saya bisa berbagi dengan orang lain, menjadi fasilitas bagi mereka yang bersemangat dalam belajar dan mendalami ilmu.Ketika saya bisa berbagi dengan orang lain, saat itulah saya merasa hidup saya bahagia karena bisa bermanfaat dan bermakna bagi orang lain.

terakhir, sebagai penutup..

saya ingin mengucapkan Terima kasih kepada teman-teman di Indonesia NLP Society, telah mengizinkan saya untuk bergabung,belajar dan bertumbuh bersama kalian. Dari kalian lah saya bersemangat dalam belajar dan berbagi.

 

 

I knew I love You Before I met You..

For My Dearest Niece, Gheta Armika Faris

2013 was the most  blessed year of my life, do you know why Dear?

in February 2013, My Brother got married, with your beautiful mum.. Nova Angelina Caesaria

a month later, I got surprised.. my lovely sister in law announced that she was pregnant!

on May 2013, I finally got my Bachelor Degree..

on December 2013, YOU WERE BORN!

Image

 

Gheta, You are the prettiest baby girl I’ve ever seen.

I do love you so much, I had fallen in love with you since you were on your mum’s tummy..

Gheta, you always brings happiness in our home..

Gheta Cantik.. keponakan Auntie yang paling cantik..

pesan auntie untuk Gheta..

selalu jadilah cahaya untuk orang lain..

cahaya yang menghangati hati orang-orang yang sayang dengan Gheta..

jangan pernah tinggalkan shalat ya nak, karena itulah kewajiban kita sebagai muslim..

jadilah Gheta yang pintar, berilmu.. karena hanya ilmu yang membantu agar kita tidak tersesat..

jangan sia-siakan waktu untuk menggunjingkan dan menyakiti hati orang lain..

sayangi papa dan mama, kakek dan nenek, Auntie dan keluarga yg lain..

Image

Gheta, Aunty misses you everyday..

I wish I could kiss you every single day..

Call it magic
Call it true
Call it magic
When I’m with you

Can’t get over you
Still I call it magic
It’s such a precious jewel

Love you so much Gheta Armika

 

Beda Konseling, Therapy dan Coaching

Bismillahirrahmanirrahim…

Saya tergerak menulis artikel ini karena banyak kawan saya yang belum memahami perbedaan Antara Konseling, Therapy dan Coaching. Saat saya menawarkan sesi coaching pada rekan kantor di tempat saya bekerja, tidak ada satupun yang tertarik.

Kenapa ya?

Padahal saat ini Coaching sedang menjamur di Dunia, dan Indonesia termasuk negara yang paling dilirik untuk meluaskan Bisnis Coaching. Banyak klien yang ingin dicoaching tapi terhalang oleh biaya. Ketika saya menawarkan sesi Probono Coaching (Free Coaching), malah tidak ada yg berminat. loh?

Setelah melakukan observasi, ternyata masih banyak yang keliru dengan pemahaman Coaching yang sebenarnya.

sesekali saya mendengar percakapan:

“Tolong si A di Therapi.. biar selesai masalahnya”
“Put, tolong dong saudara saya di Coaching, biar sadar..”

Saya suka menjawab dalam hati :

” memangnya si A punya trauma/luka di masa lalu? ngapain harus di therapi?”
“memangnya coaching bisa bikin orang tidur/pingsan jadi sadar?”

hehehe… becanda..

Ok.. Saya Bahas satu-satu ya..
Saya tidak akan membahas detil tentang definisi Konseling, Therapi dan Coaching, tapi lebih ke proses, dan siapa saja yang memerlukan Konseling, Therapi dan Coaching..

Konseling
Konseling dilakukan biasanya dilakukan oleh Konselor, Psikolog atau konsultan terhadap klien. Klien mengungkapkan masalah yang dihadapi, dan berharap mendapatkan solusi. Konselor biasanya memberikan pendapatnya sebagai solusi yang dibutuhkan klien untuk mengatasi masalah. Atau bahkan klien tidak selalu membutuhkan solusi, kadang klien hanya ingin bercerita dan ingin didengarkan.

Therapy
Therapy dilakukan oleh seorang terapis kepada klien yang memiliki “masalah” atau “luka” di masa lalunya. Seperti trauma, fobia, atau kecemasan. Terapis akan melakukan treatment/tindakan untuk mengatasi keluhan klien. Ciri khas orang yang membutuhkan Therapy: Klien sering bercerita tentang luka di masa lalunya.

Coaching
Coaching merupakan proses bermitra antara seorang Coach dan Klien. Coaching memfasilitasi klien mencapai outcome yang diinginkan. Outcome yang ingin dicapai bisa berupa goals, target, atau berupa pengambilan keputusan. Coach memfasilitasi klien mendesain target plan yang akan dijalankan. tunggu, Coach hanya memfasilitasi! Tugas klien lah yang mendesain dan menjalankan plan. Coach memastikan klien untuk tetap “stay on the track” dalam menjalankan actionnya. Coach TIDAK MEMBERI SOLUSI/JAWABAN. Coach yakin klien punya potensi. Tugas coach memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan mengeksplorasi sumber daya yang ada dalam diri klien.

Kapan klien siap menjalani Coaching?
Klien siap menjalani coaching jika sudah tidak memiliki masalah dengan masa lalunya, dan siap mencapai yang ingin diraih di masa depan, yang paling penting Klien harus komit menjalankan action yang sudah ditetapkan setelah proses coaching. Tanpa komitmen, Coaching hanyalah percakapan “curhat” biasa.

Dalam sesi therapi, terapis membantu klien yang berada dalam present state (kondisi sekarang) untuk disembuhkan luka/trauma yang pernah dihadapi di masa lalu.

Dalam sesi Coaching, klien tidak lagi diajak melihat masa lalunya, Klien kan dibawa dari Present state (kondisi sekarang) menuju Desire state nya (kondisi yang diinginkan).

Bagi teman-teman yang kebetulan membaca artikel ini, dan membutuhkan sesi coaching, saya siap membantu.

Syarat: Selama lokasi masih di Jakarta, dan Anda siap komit dengan keputusan Anda.

Silahkan kontak saya di putri.salfia@gmail.com

Makna “Hujan” Untuk Saya

Bismillahirrahmanirrahim..

Apa ya makna turunnya hujan bagi saya?
hmm.. Saya adalah salah seorang yang hampir tidak pernah berharap untuk berkata “semoga tidak hujan”..
Saya selalu menyambut dengan senang datangnya hujan.. kesejukan, bau tanah yang basah, bunyi rintik hujan yang membuat nyaman..hmm.. I do I Love Rain..

Beberapa hari ini Jakarta dan daerah lainnya di Indonesia dilanda hujan. Intensitas hujan yang cukup deras dan “awet”, menyebabkan terjadinya banjir di beberapa wilayah. Jakarta dan sekitarnya memasuki kondisi “Siaga Banjir”.

Salah satu teman saya menulis sebuah status di BBM Updates, “Ya Tuhan, kasih hujan tapi jangan kasih banjir dong”. Kalimat itu membuat saya merenung, “Apakah benar Tuhan yang mengirimkan banjir? tak adakah andil manusia dalam penyebab banjir tersebut?”

Kondisi banjir dialami pula oleh seorang guru saya. Rumahnya digenangi banjir setinggi lutut. Salah seorang teman dekat saya mengirimkan doa, “semoga hujan gak turun lagi ya”.. saat itu saya terpikir, “hmm bagaimana ya jika Tuhan tidak berkenan menurunkan hujan lagi, karena manusia tidak menginginkan banjir?”. Padahal Saat musim kemarau dan udara terik saya selalu meminta, “Ya Tuhan, tolong turunkan hujan. Bantu mereka yang kekurangan air”..

Doa yang saya harapkan untuk Guru saya waktu itu adalah, “semoga banjir cepat surut”. Alhamdulillah, karena ini bukan banjir pertama yang dialami oleh guru saya, tampaknya beliau pun sudah waspada dan antisipasi menghadapi banjir. “Alhamdulillah, berhubung sudah 4 kali kena banjir, persiapan kali ini sudah lebih matang, tinggal rapih-rapih”..

karena banjir, banyak bermunculan relawan yang ikhlas menyalurkan waktu, tenaga bahkan biaya untuk memberikan bantuan kepada korban banjir. Kerjasama dan kepedulian antar sesama sangat terlihat dalam membantu korban banjir.

see? Banjir membuat sebagian orang lebih kreatif dan peduli dengan sesama kan :)

dan lagi, Saya amati, ada beberapa orang yang menyalahkan datangnya hujan.. “ah gara-gara hujan, aku jadi gak bisa pergi kan.. sebel…”

jujur, Setiap saat saya mau berangkat ke kantor, hujan deras hampir selalu menggoda niat saya untuk tidak masuk kerja. “ah paling banyak yang gak masuk karena hujan dan banjir” atau ” kayaknya kereta kosong nih , semoga saya bisa nyaman duduk di kereta..”

tapi ternyata..
Saat di perjalanan, saya melihat perjuangan orang-orang yang akan bekerja dan pergi ke sekolah. Dan saat sampai di stasiun, ternyata tidak sepi dengan penumpang.Hujan tidak menjadi alasan buat mereka untuk stop mencari rizki dan menambah ilmu.. Subhanallah.

menurut saya, bukan hujan yang menghalangi produktivitas, but maybe our frame does :)

I love Rainy days :)

Dream to be a Coach.. Coming Soon :)

Bismillahirrahmanirrahim…

Sudah lama tidak menulis.. jadi agak grogi.. hehehe

Sampai detik menulis artikel ini, di saat ini lah saya sedang berjuang mewujudkan mimpi saya.. apakah itu?

mimpi saya adalah menjadi seorang Coach.

saat coaching dengan coach Andra, pada tahun 2013, saya menyampaikan keinginan bahwa saya mempunyai keinginan menjadi seorang Coach pada akhir tahun 2018. sebagai syarat utk menjadi seorang coach, keterampilan yang saya butuhkan adalah ilmu NLP dan coaching.

untuk belajar NLP & Coaching, saya harus mengikuti sertifikasi NLP dan sertifikasi coaching dari lembaga yang dinaungi oleh ICF (International Coach Federation). 2 sertifikasi yang harus saya ikuti dalam waktu 5 tahun, dengan angka biaya yang mencapai puluhan juta rupiah. saya harus menabung minimal 1 juta rupiah per bulan agar bisa mengikuti sertifikasi NLP dan sertifikasi coaching sebelum bulan Desember 2018.

saat coaching sesi ke-2, saya bilang ke coach Andra.. “coach, sepertinya 5 tahun terlalu lama. saya ingin mewujudkan mimpi saya dalam waktu 3 tahun”

Bismillah.. dalam waktu 3 tahun saya harus bisa mewujudkan mimpi saya. Yang artinya saya harus bekerja dan menabung lebih rajin lagi. saya harus mengumpulkan dana puluhan juta rupiah demi bisa menjadi seorang certified coach.

Then..

sekitar akhir bulan November 2013..
Mas Teddi, Mas Andra, dan Mas Syamsul dari Indonesia NLP Society berniat melaunching program terbarunya.. yaitu program sertifikasi NLP Coach.

sertifikasi profesi coach berbasis ilmu NLP.. sebuah program sertifikasi Coaching pertama berbasis ilmu NLP di Indonesia!

program yang didisain oleh mas Teddi untuk pemula, dengan asumsi peserta belum mengerti/memahami ilmu NLP.

*NANGIS BAHAGIA*

program sertifikasi ini dilaunch pertama kali kepada anggota internal pengurus Indonesia NLP Society. Dengan biaya cukup terjangkau dan boleh dicicil!! hehe.. khusus pengurus internal, peserta akan dibimbing sampai LULUS!

Program sertifikasi dilakukan dalam 8x pertemuan, tiap akhir pekan. untuk lulus, peserta harus mengikuti kelas, mengikuti ujian, assesment dan coaching minimal 20 jam dalam 2 bulan.

Saya sempat menginstall state “takut gak lulus” sebelum memulai belajar.. tapi teman-teman membantu membangkitkan semangat saya untuk berlatih.

nasihat dari para guru “Teruslah berlatih, ingat di luar sana banyak orang yang membutuhkan pertolonganmu”

sudah 4 sesi saya lalui..
masih ada tersisa 4 sesi lagi.. ujian dan praktik coaching sudah menanti..

Insya Allah 2014 menjadi tahun terwujudnya mimpi saya menjadi seorang coach :)

Wish me luck :)

Self Coaching, Apakah bisa?

Beberapa minggu yang lalu, ketika saya belajar Coaching dengan mentor saya, mas Andra Hanindyo, salah satu teman saya bertanya
“bisa gak sih coach mengcoaching dirinya sendiri?”.
jawaban dari mentor saya waktu itu, “sulit”. terkadang kita sulit untuk menggunting rambut kita sendiri. that’s why a coach needs a coach”.

Lalu ada suara muncul dari dalam diri saya, “sulit bukan berarti gak bisa kan? aku pernah kok gunting rambut sendiri, dan hasilnya lumayan rapi”.

lalu saya akhirnya melakukan trial and error, mencoba melakukan self coaching. Saya tuliskan goal yang mau saya capai.
setelah menuliskan goal, lalu saya tuliskan strategi yang harus saya lakukan untuk mencukupi kebutuhan yang harus saya penuhi untuk menjemput goal saya tersebut.

“ah, gampang!” kata saya dalam hati waktu itu.

tapi…

setelah saya lakukan, saya ajukan beberapa pertanyaan ke diri saya.. alhasil..
kok saya bingung ya.. kok jawaban yang saya buat malah bikin saya gak nyaman. bikin saya sesak nafas ketika saya memvisualisasikan diri saya menjalankan strategi tersebut. Kalau saya gak bisa menjalankan strategi yang sudah saya atur,saya malah khawatir goal saya tidak akan terwujud sesuai dateline.

satu hal yang saya sadari, saat melakukan self coaching, saya fokus pada masalah, bukan pada solusi. saat itu saya sadar, bahwa saya perlu reminder yang mengingatkan saya untuk kembali fokus.

saat saya fokus pada masalah, bertumpuklah beberapa pertanyaan yang membingungkan, alhasil saya malah distorsi. lalu apa jadinya?
saya malah migrain.

saya langsung konsultasi dengan coach saya waktu itu, mengenai distorsi yang saya lakukan dan migrain yang saya alami ketika mencoba untuk tidak distorsi.

lalu apa kata coach saya waktu itu?

“Lg masuk angin kali, atau malah blum makan :), atau ya bs jg, sedikit masuk ranah case therapy”

hmm.. iya sih.. saya pada saat itu memang lagi berpuasa. trus muncul lagi suara “ah tapi kan aku sering puasa, gak pernah migrain tuh”
“duh kok coach malah ngomongin terapy, terapy kan buat orang yang punya masalah dengan psikologisnya”

distorsi again? sepertinya iya :). makin terasa nyut-nyut kepala saya waktu itu. keringat dingin mulai mengucur, saat di kereta saya hampir pingsan.

akhirnya, saya coba tarik nafas.. mencoba untuk relax. saya shalat dan berdoa, meminta izin untuk bisa lepas dari distorsi yang saya lakukan. Alhamdulillah, migrain saya perlahan-lahan mulai berkurang sakitnya.

itulah hasil dari trial and error ketika saya mencoba untuk self coaching. berbeda ketika saya dicoaching oleh seorang coach. Saya merasa nyaman dengan jawaban-jawaban saya ketika menjawab pertanyaan yang diajukan oleh coach.

jadi ngapain ya mau-maunya saya capek-capek belajar coaching? kalau gak bisa coaching diri sendiri?

trus lagi-lagi ada suara dalam diri saya “emangnya dokter spesialis bedah jantung bisa ngebedah jantungnya sendiri?”

jadi sekian, nanya sendiri dan menjawab sendiri :)